Kamis, 16 Januari 2014

Bintang Terang, Sepertimu!


        Malam kembali menghampiri dunia bersama gelap. Entah, malam yang datang hari ini ditemani dengan bintang-bintang atau tidak.  Aku tidak tahu. Sama sekali aku tak menengok ke luar sana. Selepas isya aku sudah mengurung diri di kamar. Segelas teh manis hangat dan alunan musik instrumen aku putarkan sekaligus  menemaniku dimalam yang sendu ini. 
        Nyaman, dengan situasi ini. tanpa pikiran, lepas. Mencoba membebaskan setiap bayangan yang menjadi angan dalam otakku. Hatiku yang menganga, seperti orang yang selalu merindukan kasih sayang yang dulu pernah ada. Jatuh bangun dalam kisah cinta, seperti pemeran utama dalam film drama yang terkadang bisa ditebak akhir ceritanya.
        Rasa-rasanya malamku menjadi berbeda. Bukan hanya itu, tapi siangku, hariku, semua berubah menjadi bongkahan-bongkahan kenangan aku bersamanya. Seperti aku berada dipersimpangan jalan, ada rasa bingung, ada rasa sesal. Aku harus kemana?
        Satu detik langkah bersamamu, bagiku itu sangat berarti. Apalagi, mengingat aku sedang menata kembali keping-keping hati yang masih menyisakan luka. Itu kemarin. Sekarang, detik aku bersamamu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya detik-detik yang aku lewati sendiri.
        Musik instrumen yang sedang beralun, membuatku memejamkan mata. Aku menikmatinya. Membawa aku untuk memutar film tentangmu saat masih denganku. Nada-nada yang manis, membuat otakku menyusun kembali serpihan kenangan kita.
        Aku ingat, dulu. Menurutku, aku masih kecil. Seragam putih biru, terlihat sangat lugu, mungkin saja mudah untuk dibodohi. Ah, SMP! Sudah berani-beraninya aku menyukai pria. Konyol memang. Awal ceritaku dengannya saat itu, ketika aku pergi ke sekolah ditemani hujan. Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan menuju sekolah. Dia menyapaku, bahkan kita satu payung. Dia kehujanan, dan aku tidak bisa menolak. Dia meminta tolong kepadaku untuk memberikan sedikit ruang kosong untuk dia tempati di bawah payungku yang tidak terlalu besar ini. Suara hujan yang bergemuruh, menemani aku dengannya. Suara hujan yang berubah menjadi noktah-noktah nada yang indah dan cerita kita adalah liriknya. Cerita manis akan tetap saja manis. Terlihat jelas, sunggingan senyum indah darinya ketika menanyakan siapa namaku. Membuat aku tak bisa lupa. Kapur yang bergerak di papan tulis membentuk senyum manisnya. Sepertinya, setengah pikiranku sudah terdoktrin tentang pagi tadi antara aku dan dia. Ah, sudahlah. Aku masih kecil, belum pantas aku memautkan hati.
        Sebentar aku membuka mataku kembali. Takku sadari, aku terhanyut dengan bayang wajah indahmu, senyum manis yang hadir tujuh tahun lalu itu masih mampu aku ingat. Suara anak laki-laki yang akan menuju dewasa masih terngiang ketika dia mananyakan namaku. Kenangan, kenangan gadis kecil yang menyukai seorang pria. Mengingat-ingat puluhan bahagia yang sedikit aku lupa.
        Aku rasa, aku sudah cukup besar untuk memautkan hati kepada pria.
        Tak disadari, senyum itu hadir di wajahku. Sudah lama aku tak merasa sebebas ini, setelah beberapa bulan lalu aku patah hati.
        Aku harus menemukan kembali senyum manis itu. Aku membuka media sosial yang aku miliki. ku tuliskan namanya. Beruntung! Aku menemukannya. Sekarang, dia sudah besar. Wajahnya tambah tampan. Itu yang aku lihat di foto profilnya. Ya, setidaknya aku tahu kabarnya. Sekedar melihat keadaannya lewat foto, sudah membuat wajahku sumbringah. 
        Pertemuanku dengannya di media sosial, membuat aku bisa bertemu kembali dengannya. Bukan hanya di dunia maya, tapi dia mengajakku untuk bertemu di dunia yang sesungguhnya.
        Dulu, kita berdua bertemu ditemani hujan, di bawah payung yang menjadi awan. Sekarang, bukan hujan lagi. Tapi kau bawa aku terbang diatas lautan bintang. Kita berdua saling berbalas kata, mengingat pertemuan pertama kita. Hatiku tersipu, aku pernah menyukai pria yang sedang bersamaku. Senyummu tak berubah, masih manis. Aku suka. Mataku berbinar, ketika kita saling pandang. Setiap gerak mulutmu berbicara, membuat hatiku berteriak. Aku suka tentang kamu!!
        Angin yang menerpa tubuh, menusuk tulang. Semua menjadi hangat dengan diselimuti nostalgia aku dan kamu. Malam ini aku merasa dia membuat diriku menjadi anak kecil kembali yang bisa bebas, tertawa lepas. 
        Persandingan kita malam ini, menjadi awal aku dan kamu untuk memadukan hati. Seperti sedang merangkai setiap bagian-bagian puzzle agar tersusun rapi, dan tersenyum ketika berhasil membuatnya menjadi indah.
        Aku punya mimpi. Mimpi yang sampai detik ini tidak bisa hadir dalam kehidupan nyata. Memang, tak semuanya mimpi akan menjadi mimpi. Tapi bukan itu. Ini soal takdir. Entah kenapa ketika takdir berbicara aku hanya bisa pasrah. Ah, jangan jadikan malam ini kegelisahan datang karena diriku sendiri. Sudahlah! Yang berlalu, berlalu saja.
        Hatiku memang tak sekuat akar yang mampu menegakkan batang pohon. Tapi aku akui, aku seperti daun yang mudah jatuh ketika angin menerpa.
        Butuh kedewasaan untuk mengenal arti cinta. Yang memberi bisikan agar kita bersiap untuk bertemu, berpisah, atau menemukan kembali yang dulu pernah hilang. Aku tak akan lagi melewatkan malam. tak apa itu sunyi dan gelap. Aku hanya ingin melihat bintang. Karena dia yang membuat aku jatuh cinta kepada bintang, setelah dia bawa aku terbang melayang.
        Di depan teras rumah, aku bersemayam dengan senyum yang sudah lama aku pendam. Sambil melihat bintang. Aku bayangkan saja itu wajahmu, terlontar senyum dan ucapan “siapa namamu?”. Sekedar melepas rindu bukan? Walau hanya ada satu bintang menemani malam ini. Cukup membuatku ingat tentang dia. Hanya satu, tapi tetap saja terang. Seperti kamu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih ya komentarnya :)