Malam kembali menghampiri dunia bersama gelap. Entah, malam yang datang hari ini ditemani dengan bintang-bintang atau tidak. Aku tidak tahu. Sama sekali aku tak menengok ke luar sana. Selepas isya aku sudah mengurung diri di kamar. Segelas teh manis hangat dan alunan musik instrumen aku putarkan sekaligus menemaniku dimalam yang sendu ini.
Nyaman, dengan situasi ini. tanpa pikiran, lepas. Mencoba membebaskan setiap bayangan yang menjadi angan dalam otakku. Hatiku yang menganga, seperti orang yang selalu merindukan kasih sayang yang dulu pernah ada. Jatuh bangun dalam kisah cinta, seperti pemeran utama dalam film drama yang terkadang bisa ditebak akhir ceritanya.
Rasa-rasanya malamku menjadi berbeda.
Bukan hanya itu, tapi siangku, hariku, semua berubah menjadi
bongkahan-bongkahan kenangan aku bersamanya. Seperti aku berada dipersimpangan
jalan, ada rasa bingung, ada rasa sesal. Aku harus kemana?
Satu detik langkah bersamamu, bagiku itu
sangat berarti. Apalagi, mengingat aku sedang menata kembali keping-keping hati
yang masih menyisakan luka. Itu kemarin. Sekarang, detik aku bersamamu sudah
tidak ada lagi. Yang ada hanya detik-detik yang aku lewati sendiri.
Musik instrumen yang sedang beralun,
membuatku memejamkan mata. Aku menikmatinya. Membawa aku untuk memutar film
tentangmu saat masih denganku. Nada-nada yang manis, membuat otakku menyusun
kembali serpihan kenangan kita.
Aku ingat, dulu. Menurutku, aku masih
kecil. Seragam putih biru, terlihat sangat lugu, mungkin saja mudah untuk
dibodohi. Ah, SMP! Sudah berani-beraninya aku menyukai pria. Konyol memang.
Awal ceritaku dengannya saat itu, ketika aku pergi ke sekolah ditemani hujan. Aku
bertemu dengannya di persimpangan jalan menuju sekolah. Dia menyapaku, bahkan
kita satu payung. Dia kehujanan, dan aku tidak bisa menolak. Dia meminta tolong
kepadaku untuk memberikan sedikit ruang kosong untuk dia tempati di bawah payungku
yang tidak terlalu besar ini. Suara hujan yang bergemuruh, menemani aku
dengannya. Suara hujan yang berubah menjadi noktah-noktah nada yang indah dan
cerita kita adalah liriknya. Cerita manis akan tetap saja manis. Terlihat jelas,
sunggingan senyum indah darinya ketika menanyakan siapa namaku. Membuat aku tak
bisa lupa. Kapur yang bergerak di papan tulis membentuk senyum manisnya.
Sepertinya, setengah pikiranku sudah terdoktrin tentang pagi tadi antara aku
dan dia. Ah, sudahlah. Aku masih kecil, belum pantas aku memautkan hati.
Sebentar aku membuka mataku kembali.
Takku sadari, aku terhanyut dengan bayang wajah indahmu, senyum manis yang
hadir tujuh tahun lalu itu masih mampu aku ingat. Suara anak laki-laki yang
akan menuju dewasa masih terngiang ketika dia mananyakan namaku. Kenangan,
kenangan gadis kecil yang menyukai seorang pria. Mengingat-ingat puluhan
bahagia yang sedikit aku lupa.
Aku rasa, aku sudah cukup besar untuk
memautkan hati kepada pria.
Tak disadari, senyum itu hadir di
wajahku. Sudah lama aku tak merasa sebebas ini, setelah beberapa bulan lalu aku
patah hati.
Aku harus menemukan kembali senyum manis
itu. Aku membuka media sosial yang aku miliki. ku tuliskan namanya. Beruntung! Aku
menemukannya. Sekarang, dia sudah besar. Wajahnya tambah tampan. Itu yang aku
lihat di foto profilnya. Ya, setidaknya aku tahu kabarnya. Sekedar melihat
keadaannya lewat foto, sudah membuat wajahku sumbringah.
Pertemuanku dengannya di media sosial,
membuat aku bisa bertemu kembali dengannya. Bukan hanya di dunia maya, tapi dia
mengajakku untuk bertemu di dunia yang sesungguhnya.
Dulu, kita berdua bertemu ditemani
hujan, di bawah payung yang menjadi awan. Sekarang, bukan hujan lagi. Tapi kau
bawa aku terbang diatas lautan bintang. Kita berdua saling berbalas kata,
mengingat pertemuan pertama kita. Hatiku tersipu, aku pernah menyukai pria yang
sedang bersamaku. Senyummu tak berubah, masih manis. Aku suka. Mataku berbinar,
ketika kita saling pandang. Setiap gerak mulutmu berbicara, membuat hatiku
berteriak. Aku suka tentang kamu!!
Angin yang menerpa tubuh, menusuk
tulang. Semua menjadi hangat dengan diselimuti nostalgia aku dan kamu. Malam
ini aku merasa dia membuat diriku menjadi anak kecil kembali yang bisa bebas,
tertawa lepas.
Persandingan kita malam ini, menjadi
awal aku dan kamu untuk memadukan hati. Seperti sedang merangkai setiap
bagian-bagian puzzle agar tersusun rapi, dan tersenyum ketika berhasil
membuatnya menjadi indah.
Aku punya mimpi. Mimpi yang sampai detik
ini tidak bisa hadir dalam kehidupan nyata. Memang, tak semuanya mimpi akan
menjadi mimpi. Tapi bukan itu. Ini soal takdir. Entah kenapa ketika takdir
berbicara aku hanya bisa pasrah. Ah, jangan jadikan malam ini kegelisahan
datang karena diriku sendiri. Sudahlah! Yang berlalu, berlalu saja.
Hatiku memang tak sekuat akar yang mampu
menegakkan batang pohon. Tapi aku akui, aku seperti daun yang mudah jatuh
ketika angin menerpa.
Butuh kedewasaan untuk mengenal arti
cinta. Yang memberi bisikan agar kita bersiap untuk bertemu, berpisah, atau
menemukan kembali yang dulu pernah hilang. Aku tak akan lagi melewatkan malam. tak
apa itu sunyi dan gelap. Aku hanya ingin melihat bintang. Karena dia yang
membuat aku jatuh cinta kepada bintang, setelah dia bawa aku terbang melayang.
Di depan teras rumah, aku bersemayam
dengan senyum yang sudah lama aku pendam. Sambil melihat bintang. Aku bayangkan
saja itu wajahmu, terlontar senyum dan ucapan “siapa namamu?”. Sekedar melepas
rindu bukan? Walau hanya ada satu bintang menemani malam ini. Cukup membuatku
ingat tentang dia. Hanya satu, tapi tetap saja terang. Seperti kamu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih ya komentarnya :)