Kamis, 16 Januari 2014

Aku masih berarti :)


SALAM PERPISAHAN
Kabut mendekap pagiku. Dekapan tak hadir dari sang matahari. Tak sama seperti bulan kemarau kemarin. Langit gelap menyelimuti pagi, entah duka apa yang hadir pada hari ini. Sampai-sampai langit dan teman-temannya tak bersemangat.
Enggan aku berlarut dalam pertanyaan yang selalu saja tidak mampu aku jawab. Aku memeluk boneka beruang yang dulu aku berikan kepadamu. Sayang, kamu malah mengembalikannya. Bukan tanpa perjuangan aku bisa membeli hadiah ini untukmu. Setiap hasil kerja kerasku, hasil kerja tambahan. Aku selalu sisihkan sedikit demi sedikit, hanya untuk wanita yang dulu menjadi bidadari dalam putaran waktu hidupku.
“Aku suka dengan sikap romantismu, aku merasa istimewa di matamu”. Satu kata ucapan bahagianya tak sedikitpun aku lupa karena mendapatkan hadiah boneka beruang yang menurutku ukurannya cukup besar. Senyum simetris, lebih terlihat kamu seperti bidadari di mimpiku.
“Akan selalu aku simpan hadiah ini di tempat tidur. Di saat aku membuka mata menyambut pagi sampai aku memejamkan mata menyambut mimpi, atau di saat aku terjaga di waktu tidur lelap. aku akan selalu merasakan kamu di sampingku”. Ucapan yang membuat aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman. Mungkin, itu senyuman terindahku.
Masa lalu itu memang kejam, itu kataku. Seperti teroris yang tak pandang kepada siapa dia memasangkan bom. Itu sakit, bisa saja sampai membuat mati. Lima tahun, aku diselimuti cinta yang megah, disuguhkan minuman yang berbalut kerinduan, disambut dengan pagi yang selalu menjadi kamu. Pagi yang menghadirkan matahari. Kamu memang selalu indah dalam tatapanku.
Ah, matahari saja belum bergegas mengerjakan tugasnya. Tak ada salahnya untuk sejenak aku mengingat bongkahan pahit lima tahun lalu itu. boneka beruang ini menjadi saksi kerja kerasku membuat dirimu istimewa. Tapi apa gunanya lagi? Kamu sudah tak ingin mengingatku. Lima tahun yang terjadi, tak lagi kau rasa.
“Ikhlas menjadi diri sendiri akan membuat keadaan menjadi lebih baik”. Aku selalu ingat balasan kata dari ibuku ketika aku bercerita tentang wanita yang sekarang membuat aku seperti kabut, mudah terbawa oleh desahan hujan dan angin. Bertemu denganmu aku menjadi berubah, berpisah denganmu juga membuat aku berubah. Apa kamu tahu itu? Aku coba menyeka setiap butiran air mata disetiap malamku karena rindu yang sudah menjadi gumpalan di dalam hati.
“Kamu tidak pantas bersanding dengan anakku yang langit dan kamu buminya! Anakku tidak akan pernah duduk di pelaminan denganmu, dia akan saya jodohkan dengan pria yang juga memiliki derajat yang sama. Tidak sepertimu!”. Aaaah, aku hanya bisa mengacak-acak rambut dan berteriak jika aku mengingat perkataan yang bagiku lebih-lebih dari kata binatang. Sebegitu rendahnya aku, sampai-sampai ada orang yang berani mengeluarkan ucapan keji seperti itu. Hanya dapat menatap kedua mata wanitaku yang berkaca-kaca, hampir pecah. Hidungnya memerah, bibirnya bergetar tak kuasa. Aku ingin memeluknya. Memberi dekapan hangat untuknya. Sekedar ucapkan salam perpisahan saja aku tak sempat. Bukan waktu yang tidak memberi kesempatan, tapi ayahnya.
Sesak didada, berhadapan dengan keadaan cinta yang tak direstui orang tuanya. Aku seperti besi, yang sangat kuat. Ingin satu kali saja aku membuat bekas luka di wajah ayahnya. Tapi, aku hanya mampu memendam luka ini sendiri, pahit, sakit. Aku rasa ikhlas dan pasrah menjadi obatnya. Seperti kata ibuku. Aku percaya.
Dia yang dulu menjadi bidadari di hari-hariku, sekarang sudah bersama pria lain. Pernah aku melihat foto bahagianya. Aku melihat lewat foto yang diabadikan oleh temanku, yang menghadiri acara pernikahannya. Cincin indah, berhiaskan permata kecil melingkar di jari manismu. Gaun putih, berhiaskan manik-manik berkilau kau kenakan. Cantik! Buku pernikahan yang menandakan kau sudah resmi memiliki imam yang akan menuntunmu ke syurga abadi.
Tak disadari hujan turun di kedua sudut mataku. Bukan aku yang berikrar menghabiskan sisa hidupku untuk selalu membuatmu tersenyum. Tapi dia! Bahkan untuk sekedar menjadi tamu di acara pernikahanmu saja aku tak diundang. Seperti pisau menusuk jantungku, atau layaknya jagoan yang menembak dirinya sendiri di kepalanya karena selalu memikirkan hal yang tidak mampu mengalahkan orang yang membuat aku dan kamu berpisah.
Cukup bahagia aku melihat kamu meregahkan senyuman ketika bersanding dengan pria lain.  Entah senyum itu kebohongan atau bukan.
Ingin aku putar kembali, menjadi lima tahun yang lalu. Aku akan lebih memilih tidak tahu tentang kamu, apalagi tentang orang tuamu yang hanya memikirkan kemilau dunia dan hanya bisa merendahkan orang-orang yang tak selayaknya direndahkan.
Bahagialah kamu, bersama imammu dan keturunanmu yang aku yakini cantik dan tampan seperti parasmu. Ini untuk terakhir kali aku merindukanmu...
Ternyata aku tetap berarti walau tanpa kamu.

Bintang Terang, Sepertimu!


        Malam kembali menghampiri dunia bersama gelap. Entah, malam yang datang hari ini ditemani dengan bintang-bintang atau tidak.  Aku tidak tahu. Sama sekali aku tak menengok ke luar sana. Selepas isya aku sudah mengurung diri di kamar. Segelas teh manis hangat dan alunan musik instrumen aku putarkan sekaligus  menemaniku dimalam yang sendu ini. 
        Nyaman, dengan situasi ini. tanpa pikiran, lepas. Mencoba membebaskan setiap bayangan yang menjadi angan dalam otakku. Hatiku yang menganga, seperti orang yang selalu merindukan kasih sayang yang dulu pernah ada. Jatuh bangun dalam kisah cinta, seperti pemeran utama dalam film drama yang terkadang bisa ditebak akhir ceritanya.
        Rasa-rasanya malamku menjadi berbeda. Bukan hanya itu, tapi siangku, hariku, semua berubah menjadi bongkahan-bongkahan kenangan aku bersamanya. Seperti aku berada dipersimpangan jalan, ada rasa bingung, ada rasa sesal. Aku harus kemana?
        Satu detik langkah bersamamu, bagiku itu sangat berarti. Apalagi, mengingat aku sedang menata kembali keping-keping hati yang masih menyisakan luka. Itu kemarin. Sekarang, detik aku bersamamu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya detik-detik yang aku lewati sendiri.
        Musik instrumen yang sedang beralun, membuatku memejamkan mata. Aku menikmatinya. Membawa aku untuk memutar film tentangmu saat masih denganku. Nada-nada yang manis, membuat otakku menyusun kembali serpihan kenangan kita.
        Aku ingat, dulu. Menurutku, aku masih kecil. Seragam putih biru, terlihat sangat lugu, mungkin saja mudah untuk dibodohi. Ah, SMP! Sudah berani-beraninya aku menyukai pria. Konyol memang. Awal ceritaku dengannya saat itu, ketika aku pergi ke sekolah ditemani hujan. Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan menuju sekolah. Dia menyapaku, bahkan kita satu payung. Dia kehujanan, dan aku tidak bisa menolak. Dia meminta tolong kepadaku untuk memberikan sedikit ruang kosong untuk dia tempati di bawah payungku yang tidak terlalu besar ini. Suara hujan yang bergemuruh, menemani aku dengannya. Suara hujan yang berubah menjadi noktah-noktah nada yang indah dan cerita kita adalah liriknya. Cerita manis akan tetap saja manis. Terlihat jelas, sunggingan senyum indah darinya ketika menanyakan siapa namaku. Membuat aku tak bisa lupa. Kapur yang bergerak di papan tulis membentuk senyum manisnya. Sepertinya, setengah pikiranku sudah terdoktrin tentang pagi tadi antara aku dan dia. Ah, sudahlah. Aku masih kecil, belum pantas aku memautkan hati.
        Sebentar aku membuka mataku kembali. Takku sadari, aku terhanyut dengan bayang wajah indahmu, senyum manis yang hadir tujuh tahun lalu itu masih mampu aku ingat. Suara anak laki-laki yang akan menuju dewasa masih terngiang ketika dia mananyakan namaku. Kenangan, kenangan gadis kecil yang menyukai seorang pria. Mengingat-ingat puluhan bahagia yang sedikit aku lupa.
        Aku rasa, aku sudah cukup besar untuk memautkan hati kepada pria.
        Tak disadari, senyum itu hadir di wajahku. Sudah lama aku tak merasa sebebas ini, setelah beberapa bulan lalu aku patah hati.
        Aku harus menemukan kembali senyum manis itu. Aku membuka media sosial yang aku miliki. ku tuliskan namanya. Beruntung! Aku menemukannya. Sekarang, dia sudah besar. Wajahnya tambah tampan. Itu yang aku lihat di foto profilnya. Ya, setidaknya aku tahu kabarnya. Sekedar melihat keadaannya lewat foto, sudah membuat wajahku sumbringah. 
        Pertemuanku dengannya di media sosial, membuat aku bisa bertemu kembali dengannya. Bukan hanya di dunia maya, tapi dia mengajakku untuk bertemu di dunia yang sesungguhnya.
        Dulu, kita berdua bertemu ditemani hujan, di bawah payung yang menjadi awan. Sekarang, bukan hujan lagi. Tapi kau bawa aku terbang diatas lautan bintang. Kita berdua saling berbalas kata, mengingat pertemuan pertama kita. Hatiku tersipu, aku pernah menyukai pria yang sedang bersamaku. Senyummu tak berubah, masih manis. Aku suka. Mataku berbinar, ketika kita saling pandang. Setiap gerak mulutmu berbicara, membuat hatiku berteriak. Aku suka tentang kamu!!
        Angin yang menerpa tubuh, menusuk tulang. Semua menjadi hangat dengan diselimuti nostalgia aku dan kamu. Malam ini aku merasa dia membuat diriku menjadi anak kecil kembali yang bisa bebas, tertawa lepas. 
        Persandingan kita malam ini, menjadi awal aku dan kamu untuk memadukan hati. Seperti sedang merangkai setiap bagian-bagian puzzle agar tersusun rapi, dan tersenyum ketika berhasil membuatnya menjadi indah.
        Aku punya mimpi. Mimpi yang sampai detik ini tidak bisa hadir dalam kehidupan nyata. Memang, tak semuanya mimpi akan menjadi mimpi. Tapi bukan itu. Ini soal takdir. Entah kenapa ketika takdir berbicara aku hanya bisa pasrah. Ah, jangan jadikan malam ini kegelisahan datang karena diriku sendiri. Sudahlah! Yang berlalu, berlalu saja.
        Hatiku memang tak sekuat akar yang mampu menegakkan batang pohon. Tapi aku akui, aku seperti daun yang mudah jatuh ketika angin menerpa.
        Butuh kedewasaan untuk mengenal arti cinta. Yang memberi bisikan agar kita bersiap untuk bertemu, berpisah, atau menemukan kembali yang dulu pernah hilang. Aku tak akan lagi melewatkan malam. tak apa itu sunyi dan gelap. Aku hanya ingin melihat bintang. Karena dia yang membuat aku jatuh cinta kepada bintang, setelah dia bawa aku terbang melayang.
        Di depan teras rumah, aku bersemayam dengan senyum yang sudah lama aku pendam. Sambil melihat bintang. Aku bayangkan saja itu wajahmu, terlontar senyum dan ucapan “siapa namamu?”. Sekedar melepas rindu bukan? Walau hanya ada satu bintang menemani malam ini. Cukup membuatku ingat tentang dia. Hanya satu, tapi tetap saja terang. Seperti kamu!

Selasa, 07 Januari 2014

GUE BINGUNG AMA GUE!


GUE BINGUNG AMA GUE

Pagi, waktu yang mengawali hari. Dan untuk kesekian kalinya, gue masih dikasih kesempatan buat ngebuka mata kembali...artinya, gue masih bisa menghirup udara yang gratis. Artinya juga idung gue masih berfungsi dengan baik. Iya, ngerti kan? Artinya gue masih hidup di dunia yang indah ini. Walaupun belum pernah keliling dunia siii...tapi katanya memang dunia itu indah hehehe *kucek-kucek mata*
Dengan keberuntungan gue yang masih dikasih kesempetan buat bernafas, disisi lain gue bingung dan seketika bikin gue mikir! Gue bingung, kenapa pertama bangun aja gue udah ngeluh. Bukan ucapin “Alhamdulillah” kek! Atau nyunggingin bibir kek, ke kiri ama ke kanan biar oke...
Ini mah yang dicari malah handphone, sekalinya liat hp langsung belaga sedih karena gaada satupun SMS datang buat ucapin “Selamat pagi manis, cantik, baik hati, tidak sombong” hihihi...
Bangun tidur aja gue udah ngeluh. -.-
kalau ngomongin soal hidup, terlalu banyak gue ngeluh.. terlalu banyak gak bersyukur, terlalu banyak hal-hal yang sebenernya bermakna tapi disia-siain.
Gue bingung sama gue! Mau gue itu sebenernya apaan sih????? Memang siiih hidup itu gak selamanya seneng, hepi, ongkang-ongkang kaki doang, males-malesan, ngebikin kedua tangan jadi kaya mangkok buat minta duit sama orang tua... OH! Gue ngerti akan itu!!!  HA to the LLO. HALLO!!! Emang hidup lurus terus? Emang hidup gue yang punya? Apa perlu gue nampar pipi sendiri biar gue sadar... aaaah.. (klepak) #DRAMA
Semua rasa, semua yang dilihat, semua yang disentuh, semua yang dihirup, semua yang ditapaki, tentunya semua hal itu akan memiliki sebuah cerita. Bener gak sih? (please, jangan ada yang gak setuju ama gue!) hehehe...
Namanya juga cerita, pasti cerita itu punya cerita.
Namanya juga cerita, asalnya berasal dari pengalaman dooongsss. Entah itu pribadi, orang lain, keluarga, teman, dan lain-lain. Yang pasti dengan semua pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup gue, sampai sekarang gue masih bingung dan banyak 5WH1 yang masih belum terjawab. 
pertanyaan yang belum kejawab ya? Kalau ibarat kopi item, dia itu yang ngendep dibawah karena gak bisa larut. Dan rasanya sepet banget...gak enak!!! Ya selain itu, mirip-mirip kaya kita lagi Ujian Nasional deeech. Kalau gak nemu jawabannya kan gendek banget dihati. Ujiannya nasional tapi galaunnya sampai tingkat internasional...
Pertama, yang bikin gue bingung adalah dengan sesuatu hal yang pernah terjadi. Ini menyakitkan, ini menyedihkan, ini memilukan. Kejadiannya udah hampir setahun. Yang bikin gue bingung adalah kenapa kisah percintaan gue kaya di film-film india, atau film FTV, atau film cinta-cintaan yang lainnya deh! Kenapa gue harus ngalamin yang namanya pacaran tapi ga direstuin langsung sama ALLAH. Iya, gue TERPAKSA harus putus karena pacarnya harus pergi duluan menghadap sang khaliq :( *ngucur aer mata*... Gue bingung kenapa, ini kejadian ama hidup gue. Gaada apa orang lain? Kenapa harus gue, kenapa harus gue? Hiiiikkks. Sampai sekarang pertanyaan itu masih ngubek-ngubek otak gue buat nyari jawabannya. Tapi sayangnya belooom ketemu, dan akhirnya gue bingung!
Bukan dia jodoh gue, bukan gue jodoh dia, kita berdua gak jodoh! Udah, simpel.. mau dipaksain? Hey..mana bisa, ini udah kehendak yang maha pemilik sesuatu yang terbaik :’)
Dengan semua itu, gue bingung dong harus gimana buat gak larut dari kesedihan.. mungkin nyokap aja jadi takut gue depresi kali ya karena kejadian itu.. tapi, alhamdulillah sampai sekarang gue baik-baik aja. walaupun gaada yang tahu, dikamar sendirian suka keinget dan gak kerasa ada hujan dikedua sudut mata gue...ya, itulah. Terkadang gue rindu. Rindu sama dia yang cuma bisa ditemuin lewat mimpi. Itupun kadang-kadang...
Gue, bangkit sebangkit-bangkitnya! Gue coba tulis kisah gue sama dia. Akhirnya jadi sebuah novel, dan gue kirim ke penerbit, alhamdulillah buku gue bisa dijual. Yaa gapapalaah walaupun hanya dijual online gak sehebat buku lain yang mampang di toko buku seutuhnya, tapi setidaknya gue bisa menghasilkan sesuatu yang berkesan buat gue pribadi.
Kedua, gue bingung. Kenapa gue susaaaah banget buat ngungkapin perasaan sayang sama orang tua. Sekedar bilang “Ma, pak. Anakmu yang manis, cantik ini sayaaaang banget sama kalian!” entah kenapa.. mungkin malu. Gue gak ngerti, padahal omongan udah diujung lidah tapi susah banget buat ungkapin! Maaf ya ma, pak.. tapi jauuuuh dilubuk hatiku terukir namamu kok :) aku kan anak baik hihihi..
Ketiga, gue bingung. kenapa awak ini tak mudah bersyukur kalau melihat orang yang lebih tinggi (bisa dibilang punya semuanya). Yaaah, apa mungkin gue ini iri? Sirik? Aaaaaah, jauhin please jauhin dari sifat kaya gitu!!!
Kenapa, sampai sekarang gue gak bisa bersyukur dengan apa yang dipunya. Ya walaupun pas-pasan, tapi pengennya yang lebiiiih terus...
Mulai dari kalau beli sesuatu, padahal udah punya. Tapi hati nurani, selalu saja ingin beli again.  Pepatahnya mah, “satu aja belom abis udah pengen dua”. Kalau gak kesampean beli, rengek-rengek deh ama my sweety heart mama. *tangan berubah jadi mangkok*
keempat, masih dengan halnya gue yang bingung. Beberapa bulan ini, ada beberapa cowok yang bisa dibilang deketlah sama gue. Yaaaa, berarti emang membuktikan kalau gue gak jelek-jelek amat hihihi. Dari beberapa cowok itu gue bingung, kenapa gak ada satu pun yang pas buat nyatuin bongkahan-bongkahan hati gue (udah kaya es batu tuh hati!)
Ada yang deketin. Makin deket dia bilang sayang. Bisa dibilang gue terhanyut gitu ama perasaan akhirnya gue juga suka deh sama dia. Dan gue pun udah suka rela mau ngebuka hati cuman buat dia.
Eh. Yang bikin sakit, ujug-ujug tuh cowok ngilang kaya kebawa angin. Padahal tuh cowok gak kurus. Heeemm, garing ya? *garuk kepala*. Akhirnya, gue pergi kelaut buat ngebuang jauh-jauh perasaan ini...
Ada juga yang deketin, eeeeh tapi gue bingung ama tuh cowok. Soalnya, sikapnya batu banget! Beeeuh, awal aja gue udah takut. Mending gue kabur duluan.
Ada juga yang deketin, tapi dan tapinya. Entahlah, ngomongnya agak-agak tinggi gitu. Ya, gak sepadanlah ama gue mah. Gue mah apa atuh? Hanya manusia biasa *nyengir kuda*...
yaa dari pada gue malah nyakitin dia gegara kalau ngobrol guenya pasang headset mulu, karena males dengerin omongan dia yang gedenya bagaikan dunia beserta isinya.
Ada juga yang deketin. Dewasa? Iya. Wajah cakeplaah. Eemmh tapi, ya gitu deh. Gak pernah serius... kapan gue diseriusin kalau gitu mah? Yang ada, gue di jejelin sama janji-janji yang gue gatau lah IYA atau ENGGAK!
Ada juga yang deketin, tiba-tiba tuh orang bilang suka! Lah, tapi adek kelas . O-EM-JI. Gue ama brondong? Maunya ama brondong garing aja deh gue mah, buat ngemil kalau mau bobo. Hohoho
gue bingung, kenapa gue gak bisa ngebuka hati? toh padahal, gak ada yang sempurna begitupun diri gue. kenapa gue so' banget pengen dapet yang perfect? HAHA oh, positif thinking aja deh mungkin emang ditakdirin buat masih menjomblo mencari yang tepat. dan tentunya gue harus inget, kalau gue mencintai masa depan nanti, dan gak bisa main-main buat memilih sesuatu yang jadi penentu nasib gue kedepannya :p (LEBAY!)
Masih banyak kebingungan yang belum terjawab sampai sekarang. Ngendep terus didalem hati, dan entah deh nanti buat gue seperti apa.
Mungkin, perasaan kaya gini semua orang merasa. Mungkin..mungkin...
Yaa, kalau semua orang merasakan, berarti gak usah hawatir dong. Karena hal itu manusiawi bukan?
Gue pikir, gimana gue bisa menyikapinya aja...! (so bijak sambil ketawa jahat)
Mulai sekarang gue gak boleh bingung lagi, kalau bingung ya pegangan sama ALLAH :)
Gue yakin, cepet atau lambat Allah bakalan melarutkan kebingungan-kebingungan gue. Menjawab semua pertanyaan yang ada dihati gue dengan sebaik-baiknya...
Asalkan gue nya aja harus siap ngadepin waktu. Karena waktu berputar, dan gue harus mengikutinya. Entah jawaban itu tertunjuk dijarum jam yang keberapa.. walaupun akhirnya harus berhadapan lagi dengan hal “menunggu”. 
Lain kali biar tangan gue gak jadi mangkok terus, kayanya mau bikin usaha kali yaaa... misalnya jualan baju, sepatu, tas, apalah itu. Tapi, gue malah takut gak balik modal karena barangnya dipake ama gue sendiri hihihi :p
Lain kali, gue akan nyoba buat bilang “anakmu yang cantik, manis, baik hati ini sayang kalian! Ma, pak”. Palingan nyokap bakalan agak sedikit mual gegara punya anak narsis gitu kaya artis hehehe... Ya walaupun gitu, belajar lah buat bilang sayang gak cuman sama pacar doang. Iya gak? Iya dong!!
Dan... yang pasti, gue akan mencoba membuka hati buat cowok yang serius, yang ganteng kaya artis thailand jirayu laongmanee atau mario maurer, atauuu chantavit dhanasevi yang bikin leleh kalau liat mukanya hahaha... yang mapan, baik hati tidak sombong rajin masukin uang seratus ribuan kecelengan ayam.. lah? Kalau begitu mah semua cewek juga ngarep tingkat alam semesta.
Hehehe...yang pasti ngebuka hati buat cowok yang rajin ibadah biar bisa mimpin ke syurga abadi dong.. yang pinter peduli dengan pendidikan, yang ganteng iya, pasti... yaudah lah kalau gitumah langsung nikahin gue aja. gak usah nanya, hati gue udah jawab IYA kok hihihi :’)
Gue bingung ama gue, kenapa gue makin ngelantur gini?
Sampe mau mejemin mata aja. gue masih bingung ama gue. Kenapa gue bisa bingung! OOOH TIDAK GUE BINGUNG!
~Nitee