SALAM PERPISAHAN
Kabut mendekap pagiku. Dekapan tak hadir dari sang matahari.
Tak sama seperti bulan kemarau kemarin. Langit gelap menyelimuti pagi, entah
duka apa yang hadir pada hari ini. Sampai-sampai langit dan teman-temannya tak
bersemangat.
Enggan aku berlarut dalam pertanyaan yang selalu saja tidak
mampu aku jawab. Aku memeluk boneka beruang yang dulu aku berikan kepadamu. Sayang,
kamu malah mengembalikannya. Bukan tanpa perjuangan aku bisa membeli hadiah ini
untukmu. Setiap hasil kerja kerasku, hasil kerja tambahan. Aku selalu sisihkan
sedikit demi sedikit, hanya untuk wanita yang dulu menjadi bidadari dalam
putaran waktu hidupku.
“Aku suka dengan sikap romantismu, aku merasa istimewa di matamu”.
Satu kata ucapan bahagianya tak sedikitpun aku lupa karena mendapatkan hadiah
boneka beruang yang menurutku ukurannya cukup besar. Senyum simetris, lebih
terlihat kamu seperti bidadari di mimpiku.
“Akan selalu aku simpan hadiah ini di tempat tidur. Di saat
aku membuka mata menyambut pagi sampai aku memejamkan mata menyambut mimpi, atau
di saat aku terjaga di waktu tidur lelap. aku akan selalu merasakan kamu di
sampingku”. Ucapan yang membuat aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman. Mungkin,
itu senyuman terindahku.
Masa lalu itu memang kejam, itu kataku. Seperti teroris yang
tak pandang kepada siapa dia memasangkan bom. Itu sakit, bisa saja sampai membuat
mati. Lima tahun, aku diselimuti cinta yang megah, disuguhkan minuman yang
berbalut kerinduan, disambut dengan pagi yang selalu menjadi kamu. Pagi yang
menghadirkan matahari. Kamu memang selalu indah dalam tatapanku.
Ah, matahari saja belum bergegas mengerjakan tugasnya. Tak ada
salahnya untuk sejenak aku mengingat bongkahan pahit lima tahun lalu itu.
boneka beruang ini menjadi saksi kerja kerasku membuat dirimu istimewa. Tapi
apa gunanya lagi? Kamu sudah tak ingin mengingatku. Lima tahun yang terjadi,
tak lagi kau rasa.
“Ikhlas menjadi diri sendiri akan membuat keadaan menjadi
lebih baik”. Aku selalu ingat balasan kata dari ibuku ketika aku bercerita
tentang wanita yang sekarang membuat aku seperti kabut, mudah terbawa oleh
desahan hujan dan angin. Bertemu denganmu aku menjadi berubah, berpisah
denganmu juga membuat aku berubah. Apa kamu tahu itu? Aku coba menyeka setiap
butiran air mata disetiap malamku karena rindu yang sudah menjadi gumpalan di
dalam hati.
“Kamu tidak pantas bersanding dengan anakku yang langit dan
kamu buminya! Anakku tidak akan pernah duduk di pelaminan denganmu, dia akan
saya jodohkan dengan pria yang juga memiliki derajat yang sama. Tidak sepertimu!”.
Aaaah, aku hanya bisa mengacak-acak rambut dan berteriak jika aku mengingat
perkataan yang bagiku lebih-lebih dari kata binatang. Sebegitu rendahnya aku,
sampai-sampai ada orang yang berani mengeluarkan ucapan keji seperti itu. Hanya
dapat menatap kedua mata wanitaku yang berkaca-kaca, hampir pecah. Hidungnya memerah,
bibirnya bergetar tak kuasa. Aku ingin memeluknya. Memberi dekapan hangat
untuknya. Sekedar ucapkan salam perpisahan saja aku tak sempat. Bukan waktu
yang tidak memberi kesempatan, tapi ayahnya.
Sesak didada, berhadapan dengan keadaan cinta yang tak
direstui orang tuanya. Aku seperti besi, yang sangat kuat. Ingin satu kali saja
aku membuat bekas luka di wajah ayahnya. Tapi, aku hanya mampu memendam luka
ini sendiri, pahit, sakit. Aku rasa ikhlas dan pasrah menjadi obatnya. Seperti kata
ibuku. Aku percaya.
Dia yang dulu menjadi bidadari di hari-hariku, sekarang sudah
bersama pria lain. Pernah aku melihat foto bahagianya. Aku melihat lewat foto
yang diabadikan oleh temanku, yang menghadiri acara pernikahannya. Cincin indah,
berhiaskan permata kecil melingkar di jari manismu. Gaun putih, berhiaskan
manik-manik berkilau kau kenakan. Cantik! Buku pernikahan yang menandakan kau
sudah resmi memiliki imam yang akan menuntunmu ke syurga abadi.
Tak disadari hujan turun di kedua sudut mataku. Bukan aku
yang berikrar menghabiskan sisa hidupku untuk selalu membuatmu tersenyum. Tapi dia!
Bahkan untuk sekedar menjadi tamu di acara pernikahanmu saja aku tak diundang. Seperti
pisau menusuk jantungku, atau layaknya jagoan yang menembak dirinya sendiri di
kepalanya karena selalu memikirkan hal yang tidak mampu mengalahkan orang yang
membuat aku dan kamu berpisah.
Cukup bahagia aku melihat kamu meregahkan senyuman ketika
bersanding dengan pria lain. Entah senyum
itu kebohongan atau bukan.
Ingin aku putar kembali, menjadi lima tahun yang lalu. Aku akan
lebih memilih tidak tahu tentang kamu, apalagi tentang orang tuamu yang hanya
memikirkan kemilau dunia dan hanya bisa merendahkan orang-orang yang tak
selayaknya direndahkan.
Bahagialah kamu, bersama imammu dan keturunanmu yang aku
yakini cantik dan tampan seperti parasmu. Ini untuk terakhir kali aku merindukanmu...
Ternyata aku tetap berarti walau tanpa kamu.