Rabu, 09 Juli 2014

Cerita Pendek #savePALESTINA

Semoga memotivasi untuk membantu, walau sekedar do'a :)


AKU TAK BISA MEMILIH ( #SavePalestine )
by: tiara
Aku masih hidup di tempat yang hanya memiliki ruang gelap, ruang gerak yang sangat sedikit. Rahim seorang ibu. Lama-lama akupun tumbuh, dari bulan ke bulan. Gumpalan darah ini lama-lama membentuk segumpal daging, sampai jari-jariku tumbuh, mata, hidung, mulut, kaki, tangan, aku sempurna Tuhan.  Akhirnya, waktuku untuk dilahirkan ke dunia tiba. Sembilan bulan aku melewati fase dalam rahim seorang Ibu, memperjuangkan nyawaku. Ah, Ibu belum saja aku  sampai di Bumi kau selalu saja memperjuangkanku, apalagi ketika aku sudah hadir di bumi? Ah, kau Ibu...
Aku bisa membayangkan, ketika aku lahir Ayah dan Ibuku pasti menangis bahagia, dan tidak lupa pasti mereka memberikan senyuman terindahnya menyambut kelahiran putra pertamanya. Kebanyakan orang bilang, aku mirip dengan ayahku. Tampan.
Setiap pagi orang tuaku berjualan buah-buahan di kios kecil miliknya. Dari aku usia sangat kecil selalu diajak untuk berjualan. Aku beruntung memiliki mereka, karena yang aku tahu mereka selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku. Ya, memenuhi keinginanku, walaupun harus bekerja keras sekuat tenaga.  Pagi sampai sore mereka berjualan. Dan setelah pulang, di rumah kami selalu menikmati kebersamaan keluarga kecil ini. Saat adzan maghrib, kami selalu shalat berjama’ah begitupun Isya. Aku sudah hafal dengan suara Ayahku saat menjadi imam, merdu! Kelak, aku ingin menjadi seperti Ayah.
Aku melewati fase kembali, fase yang berbeda. Fase aku di Bumi.  Setiap bulannya, tahunnya, aku tumbuh besar. Sampai akhirnya aku masuk sekolah. Awal sekolah, sama layaknya dengan anak-anak lainnya. Aku selalu menyambut hari sekolahku dengan bahagia. Berangkat sekolah dengan cuaca yang panas. Matahari yang begitu terik seolah membakar tubuh kecilku. Tapi, itu semua hilang ketika aku bertemu dengan teman-teman sebayaku dan bisa berbagi keceriaan bersama mereka. Terlebih lagi aku beruntung masih bisa mendapatkan pendidikan.
“Jadi anak yang pintar ya, nak!”
“Jadi anak yang sholeh ya, nak!”
“Jadi anak yang bisa memperjuangkan agama dan negara, agar kelak keluarga  kita bisa benar-benar melihat dan menikmati surga ya, nak!”
Selalu saja pesan itu yang terlontar dari mulut Ibu dan Ayahku...
Aku memang belum besar, setidaknya aku merasa sudah besar ketika aku dilahirkan sebagai anak yang pertama. Sehingga, membuat aku sadar harus bisa menjadi kebanggaan orangtua yang tak pernah lelah berjuang untuk anaknya, aku.
Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi di mata dunia, tentang bumi dimana aku dilahirkan. Aku, Ayah, dan Ibu tidak hanya memperjuangkan keluarga kecil ini. Tapi, disini kami berjuang melawan zionis yang bukan hanya ingin menghancurkan kebersamaan keluarga kecilku, tapi keluarga besarku. Bumi Palestina! Bumi para Syuhada...
Saat usiaku tiga tahunan, aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ketika zionis tiba-tiba menyerang Bumi Palestina. Aku hanya bisa menangis ketakutan dalam pelukan Ibuku, yang juga tak henti-hentinya menangis dan berteriak. Ayahku terus melindungi aku dan Ibu. Dan bersyukur berkali-kali zionis menyerang, hidup masih menjadi milik kami. Walaupun, setelah kejadian itu bayang-bayang kematian selalu saja menemani hari yang kami lewati. Bayang-bayang, bagaimana jika aku harus terpisah dengan Ayah dan Ibu ketika bom bisa saja tiba-tiba ingin meratakan rumah yang bagiku surga. Karena kami tidak tahu, kapan zionis biadab itu menyerang Bumi kami, Palestina!
Aku dan orangtuaku baru saja selesai shalat maghrib berjama’ah.
Malam selalu indah disini, ribuan bintang selalu bertamu pada malam kami. Ditambah aku ditemani orangtua yang sangat menyayangi dan aku sayangi.
Tapi, tak kusangka. malam yang indah ini tiba-tiba menjadi malam yang dipenuhi dengan asap tebal dan api yang sedikit demi sedikit meleburkan indahnya Bumi Palestina. Zionis itu menyerang kembali! Sudah aku katakan, kejadian ini tak bisa diduga. Apa keluarga kami akan berakhir disini ya Rabb?
Saat itu, aku berusia delapan tahun baru akan menginjak sembilan tahun. Aku sudah bukan anak kecil lagi, aku sudah harus ikut berjuang bersama Syuhada lainnya! Aku tidak takut lagi. Yang harus aku lakukan adalah melindungi Ayah dan Ibuku dan membuat mereka bisa tersenyum melihat anaknya bisa berjuang demi agama dan negara! Seperti pesan mereka bukan? Aku ingin wujudkan keinginan mereka. Agar kami melihat surga...
Ayahku menghalangi kaum zionis yang akan meratakan rumah kecil kami. Aku ikut melemparinya dengan batu. Ibu tak mampu menahan air matanya, mendengar suara ledakan bom, dan tembakan yang tiada henti menyerangmasyarakat palestina! “Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar!!!”. Mulut kami tak henti berdzikir, tak henti memuji sang Maha melindungi. Suara teriakan orang-orang diluarpun sama, teriakan para Syuhada yang tak hentinya berdzikir.
Tangan kami tak punya senjata yang hebat, dibanding mereka yang memiliki tembakan yang bisa membawa kami kepada maut! Batu, hanya itu yang kami punya untuk melawan zionis biadab!
Tangisan Ibuku bertambah lebur. Peluru tembakan maut  zionis menghantam kepala ayahku! Darah, pecah, hancur! Oh,  Ayah...
Maut, semakin mendekat...terus mendekat...
Sampai akhirnya tembakan maut itupun juga menghantam Aku dan Ibuku.
Hidup sudah bukan milik kami lagi. 

Ayah, Ibu. Sudahkah aku menjadi anak yang pintar bagimu?
Ayah, ibu. Sudahkah aku menjadi anak yang shaleh bagimu?
Ayah, Ibu. Sudah cukupkah yang kulakukan mampu membawa keluarga kita menikmati surga?
Shalat berjemaah sudah tidak bisa kita lakukan lagi...
Lantunan suara merdu Ayah menjadi imam tak mampu aku dengarkan lagi.
Wajah sabar Ibu saat mengajari aku mengaji tak mampu aku lihat lagi.
Ayah, Ibu... Apa semua ini sudah berakhir?
Tuhan, aku tak bisa memilih dari rahim siapa aku dilahirkan. Aku tak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuaku. Aku tidak bisa memilih ke bumi mana aku akan dilahirkan.
Ketika aku tahu, aku dilahirkan dari seorang Ibu yang bahkkan lebih dari cantik, tak henti aku bahagia!
Ketika aku tahu, Ayahku pejuang yang hebat. Tak henti aku bangga!
Ketika aku tahu, Bumi Palestina menjadi perekam cerita keluarga kecilku. Tak henti aku bersyukur!
Di Bumi ini kami berjuang, di Bumi ini kami menjadi Syuhada.
Di Bumi ini aku mewujudkan pesan kedua orangtuaku...
“Berjuang untuk agama dan negara, agar keluarga kita bisa benar-benar melihat dan menikmati surga”
Bumi ini menjadi penghantar menuju keabadian keluarga kami untuk bersama selamanya, bersama Syuhada lainnya di surga.
Sekarang, aku tak hanya didekap Ayah dan Ibu saja. Tapi, Allahku juga, di surga.

Kamis, 16 Januari 2014

Aku masih berarti :)


SALAM PERPISAHAN
Kabut mendekap pagiku. Dekapan tak hadir dari sang matahari. Tak sama seperti bulan kemarau kemarin. Langit gelap menyelimuti pagi, entah duka apa yang hadir pada hari ini. Sampai-sampai langit dan teman-temannya tak bersemangat.
Enggan aku berlarut dalam pertanyaan yang selalu saja tidak mampu aku jawab. Aku memeluk boneka beruang yang dulu aku berikan kepadamu. Sayang, kamu malah mengembalikannya. Bukan tanpa perjuangan aku bisa membeli hadiah ini untukmu. Setiap hasil kerja kerasku, hasil kerja tambahan. Aku selalu sisihkan sedikit demi sedikit, hanya untuk wanita yang dulu menjadi bidadari dalam putaran waktu hidupku.
“Aku suka dengan sikap romantismu, aku merasa istimewa di matamu”. Satu kata ucapan bahagianya tak sedikitpun aku lupa karena mendapatkan hadiah boneka beruang yang menurutku ukurannya cukup besar. Senyum simetris, lebih terlihat kamu seperti bidadari di mimpiku.
“Akan selalu aku simpan hadiah ini di tempat tidur. Di saat aku membuka mata menyambut pagi sampai aku memejamkan mata menyambut mimpi, atau di saat aku terjaga di waktu tidur lelap. aku akan selalu merasakan kamu di sampingku”. Ucapan yang membuat aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman. Mungkin, itu senyuman terindahku.
Masa lalu itu memang kejam, itu kataku. Seperti teroris yang tak pandang kepada siapa dia memasangkan bom. Itu sakit, bisa saja sampai membuat mati. Lima tahun, aku diselimuti cinta yang megah, disuguhkan minuman yang berbalut kerinduan, disambut dengan pagi yang selalu menjadi kamu. Pagi yang menghadirkan matahari. Kamu memang selalu indah dalam tatapanku.
Ah, matahari saja belum bergegas mengerjakan tugasnya. Tak ada salahnya untuk sejenak aku mengingat bongkahan pahit lima tahun lalu itu. boneka beruang ini menjadi saksi kerja kerasku membuat dirimu istimewa. Tapi apa gunanya lagi? Kamu sudah tak ingin mengingatku. Lima tahun yang terjadi, tak lagi kau rasa.
“Ikhlas menjadi diri sendiri akan membuat keadaan menjadi lebih baik”. Aku selalu ingat balasan kata dari ibuku ketika aku bercerita tentang wanita yang sekarang membuat aku seperti kabut, mudah terbawa oleh desahan hujan dan angin. Bertemu denganmu aku menjadi berubah, berpisah denganmu juga membuat aku berubah. Apa kamu tahu itu? Aku coba menyeka setiap butiran air mata disetiap malamku karena rindu yang sudah menjadi gumpalan di dalam hati.
“Kamu tidak pantas bersanding dengan anakku yang langit dan kamu buminya! Anakku tidak akan pernah duduk di pelaminan denganmu, dia akan saya jodohkan dengan pria yang juga memiliki derajat yang sama. Tidak sepertimu!”. Aaaah, aku hanya bisa mengacak-acak rambut dan berteriak jika aku mengingat perkataan yang bagiku lebih-lebih dari kata binatang. Sebegitu rendahnya aku, sampai-sampai ada orang yang berani mengeluarkan ucapan keji seperti itu. Hanya dapat menatap kedua mata wanitaku yang berkaca-kaca, hampir pecah. Hidungnya memerah, bibirnya bergetar tak kuasa. Aku ingin memeluknya. Memberi dekapan hangat untuknya. Sekedar ucapkan salam perpisahan saja aku tak sempat. Bukan waktu yang tidak memberi kesempatan, tapi ayahnya.
Sesak didada, berhadapan dengan keadaan cinta yang tak direstui orang tuanya. Aku seperti besi, yang sangat kuat. Ingin satu kali saja aku membuat bekas luka di wajah ayahnya. Tapi, aku hanya mampu memendam luka ini sendiri, pahit, sakit. Aku rasa ikhlas dan pasrah menjadi obatnya. Seperti kata ibuku. Aku percaya.
Dia yang dulu menjadi bidadari di hari-hariku, sekarang sudah bersama pria lain. Pernah aku melihat foto bahagianya. Aku melihat lewat foto yang diabadikan oleh temanku, yang menghadiri acara pernikahannya. Cincin indah, berhiaskan permata kecil melingkar di jari manismu. Gaun putih, berhiaskan manik-manik berkilau kau kenakan. Cantik! Buku pernikahan yang menandakan kau sudah resmi memiliki imam yang akan menuntunmu ke syurga abadi.
Tak disadari hujan turun di kedua sudut mataku. Bukan aku yang berikrar menghabiskan sisa hidupku untuk selalu membuatmu tersenyum. Tapi dia! Bahkan untuk sekedar menjadi tamu di acara pernikahanmu saja aku tak diundang. Seperti pisau menusuk jantungku, atau layaknya jagoan yang menembak dirinya sendiri di kepalanya karena selalu memikirkan hal yang tidak mampu mengalahkan orang yang membuat aku dan kamu berpisah.
Cukup bahagia aku melihat kamu meregahkan senyuman ketika bersanding dengan pria lain.  Entah senyum itu kebohongan atau bukan.
Ingin aku putar kembali, menjadi lima tahun yang lalu. Aku akan lebih memilih tidak tahu tentang kamu, apalagi tentang orang tuamu yang hanya memikirkan kemilau dunia dan hanya bisa merendahkan orang-orang yang tak selayaknya direndahkan.
Bahagialah kamu, bersama imammu dan keturunanmu yang aku yakini cantik dan tampan seperti parasmu. Ini untuk terakhir kali aku merindukanmu...
Ternyata aku tetap berarti walau tanpa kamu.