Semoga memotivasi untuk membantu, walau sekedar do'a :)
AKU TAK BISA MEMILIH ( #SavePalestine
)
by: tiara
Aku masih hidup di tempat yang hanya
memiliki ruang gelap, ruang gerak yang sangat sedikit. Rahim seorang ibu. Lama-lama
akupun tumbuh, dari bulan ke bulan. Gumpalan darah ini lama-lama membentuk
segumpal daging, sampai jari-jariku tumbuh, mata, hidung, mulut, kaki, tangan,
aku sempurna Tuhan. Akhirnya, waktuku
untuk dilahirkan ke dunia tiba. Sembilan bulan aku melewati fase dalam rahim
seorang Ibu, memperjuangkan nyawaku. Ah, Ibu belum saja aku sampai di Bumi kau selalu saja memperjuangkanku,
apalagi ketika aku sudah hadir di bumi? Ah, kau Ibu...
Aku bisa membayangkan, ketika aku lahir
Ayah dan Ibuku pasti menangis bahagia, dan tidak lupa pasti mereka memberikan
senyuman terindahnya menyambut kelahiran putra pertamanya. Kebanyakan orang
bilang, aku mirip dengan ayahku. Tampan.
Setiap pagi orang tuaku berjualan
buah-buahan di kios kecil miliknya. Dari aku usia sangat kecil selalu diajak
untuk berjualan. Aku beruntung memiliki mereka, karena yang aku tahu mereka selalu
berusaha untuk memenuhi keinginanku. Ya, memenuhi keinginanku, walaupun harus
bekerja keras sekuat tenaga. Pagi sampai
sore mereka berjualan. Dan setelah pulang, di rumah kami selalu menikmati
kebersamaan keluarga kecil ini. Saat adzan maghrib, kami selalu shalat
berjama’ah begitupun Isya. Aku sudah hafal dengan suara Ayahku saat menjadi
imam, merdu! Kelak, aku ingin menjadi seperti Ayah.
Aku melewati fase kembali, fase yang
berbeda. Fase aku di Bumi. Setiap
bulannya, tahunnya, aku tumbuh besar. Sampai akhirnya aku masuk sekolah. Awal
sekolah, sama layaknya dengan anak-anak lainnya. Aku selalu menyambut hari sekolahku
dengan bahagia. Berangkat sekolah dengan cuaca yang panas. Matahari yang begitu
terik seolah membakar tubuh kecilku. Tapi, itu semua hilang ketika aku bertemu
dengan teman-teman sebayaku dan bisa berbagi keceriaan bersama mereka. Terlebih
lagi aku beruntung masih bisa mendapatkan pendidikan.
“Jadi anak yang pintar ya, nak!”
“Jadi anak yang sholeh ya, nak!”
“Jadi anak yang bisa memperjuangkan
agama dan negara, agar kelak keluarga kita
bisa benar-benar melihat dan menikmati surga ya, nak!”
Selalu saja pesan itu yang terlontar
dari mulut Ibu dan Ayahku...
Aku memang belum besar, setidaknya aku
merasa sudah besar ketika aku dilahirkan sebagai anak yang pertama. Sehingga,
membuat aku sadar harus bisa menjadi kebanggaan orangtua yang tak pernah lelah
berjuang untuk anaknya, aku.
Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi di
mata dunia, tentang bumi dimana aku dilahirkan. Aku, Ayah, dan Ibu tidak hanya
memperjuangkan keluarga kecil ini. Tapi, disini kami berjuang melawan zionis
yang bukan hanya ingin menghancurkan kebersamaan keluarga kecilku, tapi
keluarga besarku. Bumi Palestina! Bumi para Syuhada...
Saat usiaku tiga tahunan, aku tak
mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ketika zionis tiba-tiba menyerang Bumi
Palestina. Aku hanya bisa menangis ketakutan dalam pelukan Ibuku, yang juga tak
henti-hentinya menangis dan berteriak. Ayahku terus melindungi aku dan Ibu. Dan
bersyukur berkali-kali zionis menyerang, hidup masih menjadi milik kami.
Walaupun, setelah kejadian itu bayang-bayang kematian selalu saja menemani hari
yang kami lewati. Bayang-bayang, bagaimana jika aku harus terpisah dengan Ayah
dan Ibu ketika bom bisa saja tiba-tiba ingin meratakan rumah yang bagiku surga.
Karena kami tidak tahu, kapan zionis biadab itu menyerang Bumi kami, Palestina!
Aku dan orangtuaku baru saja selesai
shalat maghrib berjama’ah.
Malam selalu indah disini, ribuan
bintang selalu bertamu pada malam kami. Ditambah aku ditemani orangtua yang
sangat menyayangi dan aku sayangi.
Tapi, tak kusangka. malam yang indah ini
tiba-tiba menjadi malam yang dipenuhi dengan asap tebal dan api yang sedikit
demi sedikit meleburkan indahnya Bumi Palestina. Zionis itu menyerang kembali!
Sudah aku katakan, kejadian ini tak bisa diduga. Apa keluarga kami akan
berakhir disini ya Rabb?
Saat itu, aku berusia delapan tahun baru
akan menginjak sembilan tahun. Aku sudah bukan anak kecil lagi, aku sudah harus
ikut berjuang bersama Syuhada lainnya! Aku tidak takut lagi. Yang harus aku
lakukan adalah melindungi Ayah dan Ibuku dan membuat mereka bisa tersenyum
melihat anaknya bisa berjuang demi agama dan negara! Seperti pesan mereka
bukan? Aku ingin wujudkan keinginan mereka. Agar kami melihat surga...
Ayahku menghalangi kaum zionis yang akan
meratakan rumah kecil kami. Aku ikut melemparinya dengan batu. Ibu tak mampu
menahan air matanya, mendengar suara ledakan bom, dan tembakan yang tiada henti
menyerangmasyarakat palestina! “Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar!!!”.
Mulut kami tak henti berdzikir, tak henti memuji sang Maha melindungi. Suara
teriakan orang-orang diluarpun sama, teriakan para Syuhada yang tak hentinya
berdzikir.
Tangan kami tak punya senjata yang
hebat, dibanding mereka yang memiliki tembakan yang bisa membawa kami kepada
maut! Batu, hanya itu yang kami punya untuk melawan zionis biadab!
Tangisan Ibuku bertambah lebur. Peluru tembakan
maut zionis menghantam kepala ayahku!
Darah, pecah, hancur! Oh, Ayah...
Maut, semakin mendekat...terus
mendekat...
Sampai akhirnya tembakan maut itupun
juga menghantam Aku dan Ibuku.
Hidup sudah bukan milik kami lagi.
Ayah, Ibu. Sudahkah aku menjadi anak
yang pintar bagimu?
Ayah, ibu. Sudahkah aku menjadi anak
yang shaleh bagimu?
Ayah, Ibu. Sudah cukupkah yang kulakukan
mampu membawa keluarga kita menikmati surga?
Shalat berjemaah sudah tidak bisa kita
lakukan lagi...
Lantunan suara merdu Ayah menjadi imam
tak mampu aku dengarkan lagi.
Wajah sabar Ibu saat mengajari aku
mengaji tak mampu aku lihat lagi.
Ayah, Ibu... Apa semua ini sudah
berakhir?
Tuhan, aku tak bisa memilih dari rahim
siapa aku dilahirkan. Aku tak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuaku.
Aku tidak bisa memilih ke bumi mana aku akan dilahirkan.
Ketika aku tahu, aku dilahirkan dari
seorang Ibu yang bahkkan lebih dari cantik, tak henti aku bahagia!
Ketika aku tahu, Ayahku pejuang yang
hebat. Tak henti aku bangga!
Ketika aku tahu, Bumi Palestina menjadi
perekam cerita keluarga kecilku. Tak henti aku bersyukur!
Di Bumi ini kami berjuang, di Bumi ini
kami menjadi Syuhada.
Di Bumi ini aku mewujudkan pesan kedua
orangtuaku...
“Berjuang untuk agama dan negara, agar
keluarga kita bisa benar-benar melihat dan menikmati surga”
Bumi ini menjadi penghantar menuju keabadian
keluarga kami untuk bersama selamanya, bersama Syuhada lainnya di surga.
Sekarang, aku tak hanya didekap Ayah dan
Ibu saja. Tapi, Allahku juga, di surga.